- Nama: Prisa Rianzi
- Nama Lengkap: Prisa Adinda Arini Rianzi
- Website Resmi: www.prisarianzi.com
- Video Youtube: www.youtube.com/prisathecutedevil
- Nick Di Forum Gitaris.com : TheCuteDeviL
- Tempat/Tgl Lahir : Jakarta / 6 Januari 1988
- E-mail Address : prisa.adinda@gmail.com
- Pekerjaan : Musisi
- Tempat Tinggal Sekarang : Jakarta
- Gitar Jackson DKMG Arch Top, Jackson USA Randy Rhoads RR1, Fender USA Telecaster Flathead Custom Shop, Ibanez Universe 7-String UV777BK, Martin & Co X series & Fender Strat Eric Clapton
Efek : Boss Reverb RV-2, Tonebone Hot British, Ibanez Tube Screamer 808 - Ampli : Mesa Boogie Single Rectifier, Roland Cube 30
- Group Band Saat ini : Vendetta
- Pengalaman Band : Dead Squad, Zala
- Pengaruh Musikal : Lamb Of God, Arch Enemy, Killswitch Engage, Children Of Bodom, Spawn Of Possesion, John Mayer, Tahiti 80, Mae, Dashboard Confessional, Copeland, Jimmy Eat World,
- Style Permainan : Metal, Pop
- Teknik Favorit : Power Chord, Arpeggio
Gitaris Favorit : Lamb Of God, Paul Gilbert, Marty Friedman - Band Favorit : Mark Morton, Arch Enemy, Children Of Bodom, Killswitch Engage, Megadeth, Lamb of God
Album Favorit : Ashes Of The Wake (Lamb Of God), Unhallowed (The Black Dahlia Murder), The End Of Heartache (Killswitch Engage) - Lagu Yang Sedang Dimainkan (per 4-2008): Lagu band baru Prisa: Vendetta! Hourglass (Lamb Of God), Born (Nevermore), Tornado Of Souls (Megadeth), Devil Take Tomorrow (Marty Friedman), Now You’ve Got Something To Die For (Lamb Of God), The Curse Of Castle Dragon (Paul Gilbert), Nemesis (Arch Enemy), Holy Diver (Killswitch Engage) Lagu Yang Pertama Dipelajari : Anugerah Terindah (Sheila On 7)
Musik metal itu seperti rokok. Pertama kali ngisep, batuk, tapi sesudah itu bisa nyandu. Begitu Prisa Rianzi (20) mengibaratkan.
Siapa Prisa? Nama Prisa dikenal di kalangan gitaris karena ia memang gitaris, lebih khusus gitaris beraliran metal. Bersama Vendetta, grup band heavy metal-nya yang berawak empat cewek, Prisa ingin mewujudkan idealismenya bermain musik. Awak Vendetta, katanya, ditanggung high skilled. Aku yakin Vendetta bisa dijual ke luar negeri, tegasnya.
Di komunitas sekaligus situs gitaris.com, Prisa dinobatkan menjadi Miss Gitaris.com gara-gara kerap menjadi juru bicara mewakili komunitas. Ia menjadi semacam ikon lantaran sebelum kemunculannya, anggota komunitas hanya berisi cowok dan cowok melulu.
Mengapa memilih metal? Musik yang dijuluki musik keras seperti cadas itu, buatPrisa, mengalirkan rasa tersendiri kala didengarkan. Hmm... bagaimana rasa itu? Kalau denger musiknya, adrenalin langsung naik. Ada sensasinya, jadi head bang deh. Bagi orang yang enggak suka, denger metal memang menderita, katanya.
Menjadi gitaris band metal itu membanggakan. Boleh dibilang, gitaris cewek yang memainkan musik metal, serta memiliki grup band metal berpersonel cewek semua, belum ada di jagat ini. Kalau pas turun panggung, rasanya keren banget, tutur pengidola antara lain band Lamb of God, Arch Enemy, Killswitch Engage, Children of Bodom, dan Spawn of Possession ini.
Mau tahu penampilan Prisa? Jangan bayangkan seorang cewek tomboi dengan gaya bicara ceplas-ceplos. Tutur katanya justru lembut, menjurus ke gemulai. Ketawanya pelan, seperti malu-malu. Kalimat demi kalimat mengalir pelan dan teratur, tidak tergesa-gesa. (Eh, tapi menurut kakaknya, Prita, Prisa itu kalau marah galak juga).
Saat diwawancara di rumahnya di daerah Warung Buncit, Prisa bercerita ia tengah menjalani perawatan kulit wajah sehingga sebisa mungkin menghindari tempaan sinar matahari. Karena kerap dibubuhi make-up, kulit wajahnya menjadi berjerawat. Lagi jelek nih, katanya sambil menutup wajahnya. Padahal cantik lho.
Selera musik boleh metal, tapi penampilan tetap kalem. Hal yang prinsip buatPrisa adalah menghindari minuman beralkohol, rokok, dan obat-obatan terlarang. Kalau biasanya orang rock atau metal itu pergaulannya bebas lalu minum minuman keras, aku enggak ambil gaya hidup itu, tegasnya. Sejak SMP
Prisa mengenal gitar ketika usia 14 tahun, sewaktu kelas II SMP. Mulanya Prisahanya iseng meminjam gitar kopong kepunyaan teman, tetapi lantas mengasyikinya, hingga ia pun mengikuti kegiatan ekstrakurikuler musik di sekolah. Melihat semangat Prisa bermain gitar, kakaknya, Amir, menghadiahinya sebuah gitar pada ulang tahunnya yang ke-15. Prisa juga belajar lewat buku berisi lagu-lagu yang dibubuhi chord, yang biasa dijual di kios kaki lima. Sampai pada suatu saat, ia minta orangtua mendaftarkannya kursus di Yamaha Music Indonesia. Di sana ia belajar gitar klasik selama dua tahun.
Pada usia 17 tahun, Prisa pindah menekuni gitar elektrik dan kursus di Farabi selama setahun, dilanjutkan kursus privat. Saat itu, aku mantap ingin menjadi gitaris beneran. Dan, belum jadi gitaris beneran kalau nggak pegang gitar elektrik, ujarnya.
Gitar menjadi teman hidup Prisa. Ia makin aktif muncul di berbagai acara yang digelar komunitas underground dan band indie. Nge-jam bareng menjadi saat yang dinantikan. Aku merasa diterima sebagai bagian dari sebuah komunitas, katanya. Hidup dari musik
Lulus SMA, Prisa maunya kuliah di bidang musik, khususnya gitar. Namun, orangtua Prisa masih menyangsikan pilihan hidup putrinya. Ya kalau nggitar saja, duitnya kan angin-anginan, jelasnya. Prisa lantas kuliah di Fikom Universitas Moestopo, namun tak urung berhenti juga di semester IV. Pada akhirnya, orangtuanya mau mengerti dan menyerahkan pilihan kepada putrinya. Gitaris itu juga profesi, sama seperti pengacara. Aku enggak mau sekolahnya apa kok pekerjaannya beda, terang Prisa.
Pada tahun 2005, sebelum mendirikan Vendetta, Prisa pernah membentuk grup, Zala, yang ngetop di kalangan underground. Bersama Zala, ia tidak hanya manggung di pentas metal underground, tetapi pernah diundang di ajang Java Jazz 2006. Prisa sempat berintegrasi dengan band Dead Squad dan berpasangan dengan personel Andra & The Backbone, Stevie Item. Ia juga berkolaborasi dengan Eet Sjahranie, gitaris Edane, dan sempat dikontrak dua bulan menjadi gitaris tamu serta backing vocal grup Sheila On 7. Dengan band yang sedang melesat, J-Rock, ia pun berpadu.
Ya, memang masih kontrak-kontrak berskala tidak besar, tetapi Prisa yakin bisa hidup dari musik, bahkan indie sekalipun. Saat ini harga manggung Vendetta masih sekitar Rp3 jutaan. Namun kami terus menaikkan harga, katanya optimisti
Siapa Prisa? Nama Prisa dikenal di kalangan gitaris karena ia memang gitaris, lebih khusus gitaris beraliran metal. Bersama Vendetta, grup band heavy metal-nya yang berawak empat cewek, Prisa ingin mewujudkan idealismenya bermain musik. Awak Vendetta, katanya, ditanggung high skilled. Aku yakin Vendetta bisa dijual ke luar negeri, tegasnya.
Di komunitas sekaligus situs gitaris.com, Prisa dinobatkan menjadi Miss Gitaris.com gara-gara kerap menjadi juru bicara mewakili komunitas. Ia menjadi semacam ikon lantaran sebelum kemunculannya, anggota komunitas hanya berisi cowok dan cowok melulu.
Mengapa memilih metal? Musik yang dijuluki musik keras seperti cadas itu, buatPrisa, mengalirkan rasa tersendiri kala didengarkan. Hmm... bagaimana rasa itu? Kalau denger musiknya, adrenalin langsung naik. Ada sensasinya, jadi head bang deh. Bagi orang yang enggak suka, denger metal memang menderita, katanya.
Menjadi gitaris band metal itu membanggakan. Boleh dibilang, gitaris cewek yang memainkan musik metal, serta memiliki grup band metal berpersonel cewek semua, belum ada di jagat ini. Kalau pas turun panggung, rasanya keren banget, tutur pengidola antara lain band Lamb of God, Arch Enemy, Killswitch Engage, Children of Bodom, dan Spawn of Possession ini.
Mau tahu penampilan Prisa? Jangan bayangkan seorang cewek tomboi dengan gaya bicara ceplas-ceplos. Tutur katanya justru lembut, menjurus ke gemulai. Ketawanya pelan, seperti malu-malu. Kalimat demi kalimat mengalir pelan dan teratur, tidak tergesa-gesa. (Eh, tapi menurut kakaknya, Prita, Prisa itu kalau marah galak juga).
Saat diwawancara di rumahnya di daerah Warung Buncit, Prisa bercerita ia tengah menjalani perawatan kulit wajah sehingga sebisa mungkin menghindari tempaan sinar matahari. Karena kerap dibubuhi make-up, kulit wajahnya menjadi berjerawat. Lagi jelek nih, katanya sambil menutup wajahnya. Padahal cantik lho.
Selera musik boleh metal, tapi penampilan tetap kalem. Hal yang prinsip buatPrisa adalah menghindari minuman beralkohol, rokok, dan obat-obatan terlarang. Kalau biasanya orang rock atau metal itu pergaulannya bebas lalu minum minuman keras, aku enggak ambil gaya hidup itu, tegasnya. Sejak SMP
Prisa mengenal gitar ketika usia 14 tahun, sewaktu kelas II SMP. Mulanya Prisahanya iseng meminjam gitar kopong kepunyaan teman, tetapi lantas mengasyikinya, hingga ia pun mengikuti kegiatan ekstrakurikuler musik di sekolah. Melihat semangat Prisa bermain gitar, kakaknya, Amir, menghadiahinya sebuah gitar pada ulang tahunnya yang ke-15. Prisa juga belajar lewat buku berisi lagu-lagu yang dibubuhi chord, yang biasa dijual di kios kaki lima. Sampai pada suatu saat, ia minta orangtua mendaftarkannya kursus di Yamaha Music Indonesia. Di sana ia belajar gitar klasik selama dua tahun.
Pada usia 17 tahun, Prisa pindah menekuni gitar elektrik dan kursus di Farabi selama setahun, dilanjutkan kursus privat. Saat itu, aku mantap ingin menjadi gitaris beneran. Dan, belum jadi gitaris beneran kalau nggak pegang gitar elektrik, ujarnya.
Gitar menjadi teman hidup Prisa. Ia makin aktif muncul di berbagai acara yang digelar komunitas underground dan band indie. Nge-jam bareng menjadi saat yang dinantikan. Aku merasa diterima sebagai bagian dari sebuah komunitas, katanya. Hidup dari musik
Lulus SMA, Prisa maunya kuliah di bidang musik, khususnya gitar. Namun, orangtua Prisa masih menyangsikan pilihan hidup putrinya. Ya kalau nggitar saja, duitnya kan angin-anginan, jelasnya. Prisa lantas kuliah di Fikom Universitas Moestopo, namun tak urung berhenti juga di semester IV. Pada akhirnya, orangtuanya mau mengerti dan menyerahkan pilihan kepada putrinya. Gitaris itu juga profesi, sama seperti pengacara. Aku enggak mau sekolahnya apa kok pekerjaannya beda, terang Prisa.
Pada tahun 2005, sebelum mendirikan Vendetta, Prisa pernah membentuk grup, Zala, yang ngetop di kalangan underground. Bersama Zala, ia tidak hanya manggung di pentas metal underground, tetapi pernah diundang di ajang Java Jazz 2006. Prisa sempat berintegrasi dengan band Dead Squad dan berpasangan dengan personel Andra & The Backbone, Stevie Item. Ia juga berkolaborasi dengan Eet Sjahranie, gitaris Edane, dan sempat dikontrak dua bulan menjadi gitaris tamu serta backing vocal grup Sheila On 7. Dengan band yang sedang melesat, J-Rock, ia pun berpadu.
Ya, memang masih kontrak-kontrak berskala tidak besar, tetapi Prisa yakin bisa hidup dari musik, bahkan indie sekalipun. Saat ini harga manggung Vendetta masih sekitar Rp3 jutaan. Namun kami terus menaikkan harga, katanya optimisti











Tidak ada komentar:
Posting Komentar